Ekspansi Sultan Agung ke Batavia
Setelah
memadamkan pemberontakan Pati, Sultan Agung menfokuskan perhatiannya kepada
rencana untuk penyerangan Batavia. Pada tahun 1625 tidak ada pengiriman utusan
Belanda ke Mataram. Situasi antara tahun 1620 sampai 1628 VOC dan Mataram
saling bermusuh-musuhan. Bagi raja-raja, Batavia merupakan suatu kota yang
merugikan kerajaan. Hubungan antara Mataram dan Malaka dipersukar oleh Batavia.
Bagi Sultan Agung, hanya ada satu cara untuk melepaskan diri dari Batavia yaitu
dengan menghancurkan Batavia. Tanda-tanda bahwa Mataram merencanakan sesuatu
yang luar biasa adalah penutupan hampir seluruh Pantai Jawa atas perintah
Tumenggung Baureksa dari Kendal. Penutupan ini dimulai pada awal tahun 1628.
Tindakan tersebut sangat rapih sehingga orang asing yang akan mengunjungi
Kerajaan Mataram ditahan di sana.
Kantor
perdagangan Inggris yang masih ada di Jepara ditutup pula selama beberapa
waktu. Munculnya desas-desus bahwa Raja Mataram telah mengumpulkan prajurit
sebanyak 48.000 sampai 100.000 untuk menyerang Batavia. Suatu serangan terhadap
Batavia menurut desas-desus akan terjadi pada hari Natal tahun 1627.
A. Penyerbuan
Batavia yang Pertama.
Pada 13 April
1628 Kyai Rangga atas nama Tumenggung Tegal tiba dengan 14 kapal bermuatan
beras ke Batavia. Kyai Rangga merupakan saudara dari Tumenggung Tegal. Ia
memohon kepada VOC untuk membantu Mataram menyerbu Banten akan tetapi VOC
menolak memberi bantuan karena penutupan pelabuhan-pelabuhan di Pantai Utara Jawa.
Pada tanggal 22 Agustus 1628, 50 kapal muncul di hadapan Batavia dalam
perbekalan yang sangat banyak.[1]
Hal ini membuat VOC curiga. Kapal-kapal tersebut memuat 150 ekor ternak, 120 last beras (1 last = k.l 30 liter), 10.600 ikat padi, 26.000 kelapa, 5.900 ikat
batang gula, dan sebagainya dilengkapi dengan tidak kurang dari 900 awak kapal.[2]
Dua hari kemudian muncul lagi 7 kapal yang singgah untuk meminta izin pelayaran
ke Malaka. VOC sendiri berusaha untuk tidak mempertemukan kapal-kapal yang tiba
dahulu dan yang belakangan karena khawatir kapal-kapal yang baru datang akan
memberi senjata kepada kapal-kapal lainnya.
Namun usaha-usaha
VOC agar kapal-kapal tersebut tidak bertemu gagal. Kapal-kapal tersebut
akhirnya berkumpul di tengah malam kemudian 20 kapal menyerbu pasar dan benteng
yang belum selesai. Orang-orang Mataram kemudian mendarat dari kapal-kapalnya
dan berhasil menuju benteng. Mereka terus maju sampai ke balik tembok benteng.
Baru pada dini hari orang-orang Mataram kemudian mundur dengan meninggalkan
banyak mayat. 7 perahu yang datang pada tanggal 24 Agustus ketika melihat hasil
penyerbuan ke benteng yang mengakibatkan banyak korban akhirnya tidak mau
mendekati Batavia namun mendekati daerah Marunda yaitu sebuah kali kecil yang
tidak jauh dari bagian timur kota.
Kemudian pada
tanggal 26 Agustus datang sebuah pasukan besar dengan mengibarkan panji-panji
di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa dari Kendal. Kemudian VOC mengorbankan
daerah sekitar benteng. VOC membakar daerah-daerah sekitar benteng,
kampung-kampung di sekitar benteng dibakar dan diratakan dengan tanah. Hal ini
bertujuan agar para prajurit Mataram tidak bersembunyi di daerah tersebut.
Ketika prajurit Mataram hendak mendekati benteng tidak sulit bagi VOC untuk
mengusir mereka. Pada awal September pasukan Mataram membuat garis pertahanan
dari bambu dan kayu. Kemudian pasukan Mataram menggali parit-parit untuk
benteng mereka.
Pada 12 September
65 tentara VOC dengan dilindungi 150 penembak senapan menyerang benteng pasukan
Mataram dan berhasil memukul mundur 300 orang tentara Mataram serta membunuh 40
diantara mereka. Pada 21 September pasukan Mataram menyerbu benteng Hollandia.
Pasukan Mataram berusaha untuk menaiki benteng pertahanan tersebut dengan
tangga serta pendobrak dari balok kayu. Tetapi 24 serdadu Belanda yang
mendudukinya mempertahankannya dengan gigih, sampai semua peluru tertembakan
habis.[3]
Sambil menjalankan penyerangan ini, di bagian lain pasukan Mataram membunyikan
alarm untukmengurangi perhatian pada penyerbuan atas benteng Hollandia. Akan
tetapi VOC dapat mencium tujuan tentara Mataram hanya untuk menyerbu benteng
Hollandia. Kemudian VOC melancarkan serangan besar dengan 300 prajurit dan 100
orang sipil, sejumlah besar pengirim yang terdiri dari mardickers dan Cina menyerang parit-parit pertahanan pasukan
Mataram.
Kerugian yang
ditimbulkan atas serangan tersebut diperkirakan 12 sampai 1.300 prajurit
Mataram tewas serta 2 sampai 3.000 ditawan. Hal ini membuat pasukan Mataram
tercerai berai. Dari para tawanan didapat keterangan bahwa masih terdapat 4.000
prajurit Mataram yang masih berkeliaran di hutan untuk mencari makanan. Oleh
karena itu pada tanggal 21 Oktober diadakan serangan umum yang dipimpin oleh
Jacques Lefebre. Dengan jumlah yang tidak kecil yaitu 2.866 orang, Jacques
Lefebre mengadakan penyerbuan.[4]
Dengan armada yang terdiri dari 2 kapal pantai dengan 7 sekoci dan beberapa
kapal berawak 150 orang melakukan serangan ke perkemahan musuh dari sungai
sedangkan pasukan musuh lainnya diserbu oleh Angkatan Darat.
Kemudian Jacques
Lefebre menyusuri sungai di tepi di mana terdapat perkampungan tentara Mataram.
Pada perkampungan Mataram yang kedua terdapat Tumenggung Baureksa. Kemudian
pasukan VOC dengan bantuan orang-orang Cina menyerbu dan membakar benteng-benteng
di sekitar perkampungan Mataram tersebut. Sekitar 200 prajurit Mataram gugur
terdapat juga Tumenggung Baureksa dan putranya serta beberapa bangsawan lainnya
yang ikut gugur. Pada malam berikutnya pasukan VOC menghancurkan dan merampas
kapal-kapal Angkatan Laut Mataram sehingga Mataram hanya tinggal mempunyai 50
dari 200 kapal.
Sekitar 1000
orang dikirim untuk membongkar sisa-sisa benteng pertahanan pasukan Mataram dan
menebang pohon-pohon yang mengganggu. Ketika itu juga ditemukan sisa-sisa
pasukan Mataram di perkemahan lama. Setelah itu terjadi pertempuran
kecil-kecilan sehingga pasukan Mataram terdesak mundur. Pasukan Mataram sempat
mengatur diri kembali dan ternyata menerima bantuan yang cukup banyak. Kemudian
datang pasukan Mataram yang kedua untuk memperkuat pasukan yang pertama.
Pertempuran terjadi lagi dengan pasukan baru Mataram ini yang membuat
orang-orang Belanda kewalahan karena kehabisan peluru. Baru ketika dilancarkan
tembakan meriam dari dua kapal pantai dan dari tembok-tembok kota serbuan
pasukan Mataram bisa dihentikan.
Pihak VOC
kehilangan 60 orang, dan 140 orang kehilangan senjata. Pasukan Mataram kembali
menggunakan perkemahan lamanya karena belum sempat dimusnahkan. Pasukan Mataram
yang kedua ini dipimpin oleh Tumenggung Sura Agul-agul dan dua bersaudara Kyai
Dipati Mandurareja dan Upa Santa. Mereka datang ke Batavia berharap kota ini
telah ditundukan sehingga mereka hanya tinggal merampas rampasan perang. Namun
Batavia belum bisa ditaklukan kemudian pasukan Mataram kembali menggunakan cara
pengepungan di Surabaya, yaitu dengan membendung sungai. Untuk itu dipekerjakan
3000 orang selama satu bulan satu mil kota, tetapi kemajuan sangat lamban, dan
rakyat lemas karena kelaparan dan serba kekurangan.[5]
Akan tetapi
taktik tersebut hanya cocok dilakukan di Surabaya bukan di Batavia.
Satu-satunya serangan pada bagian kedua pengepungan ini adalah dengan menyerbu
benteng Hollandia. Penyerbuan ini dilakukan malam hari tanggal 27 sampai 28
November. Serangan pertama dilakukan dengan 100 prajurit Mataram kemudian
ditambah lagi dengan 300 prajurit Mataram. Namun pengepungan ini tidak berhasil
dan pasukan Mataram dipukul mundur kembali. Oleh karena itu pada tanggal 1
Desember Tumenggung Sura Agul-agul memerintahkan eksekusi terhadap Mandurareja
dan Upa Santa beserta anak buahnya dihukum mati karena kegagalan mereka merebut
Batavia. Beberapa dari mereka dipenggal, kebanyakan mereka ditusuk dengan
tombak dan keris. Pada 3 Desember 1628 pasukan Mataram meninggalkan Batavia.
Pihak VOC menemukan 744 mayat orang Jawa berserakan, dan sebagian tanpa kepala.[6]
B. Hubungan
Mataram dan Orang-orang Portugis
Kemenangan-kemenangan
Portugis tentu diketahui oleh Sultan Agung meskipun jaraknya jauh. Sudah sejak
tahun 1617 perhatian raja Mataram ini dipusatkan pada Sumatera seperti juga
perhatian warga negaranya yang berdagang ke Malaka. Pada tahun 1624, raja
Mataram mengundang orang-orang Portugisuntuk melatih prajurit Mataram dalam
penggunaan meriam. Pada tahun 1928 ketika Sultan Agung mempersiapkan
serangannya ke Batavia ia mengirim surat ke Malaka untuk meminta bantuan.
Permintaan ini dianggap penting oleh gubernur setempat dan diteruskan ke Goa.
Dengan kapal pembawa informasi kilat yang dalam waktu empat bulan dapat
berlayar dari Hindia ke Lisabon yang membawa berita tentang pendekatan Mataram
disampaikan kepada raja. Orang-orang VOC pun takut dengan hal ini karena dapat
mendorong orang-orang Portugis memperluas pengiriman kekuatannya ke Hindia.
Dalam keadaan
sulit bagi Portugis setiap sekutu harus diterima dengan baik dan kesempatan
yang menguntungkan ini pasti akan dimanfaatkan. Pada tahun 1630 raja Mataram
kembali mengulangi permintaannya. Gubernur Jepara, Kyai Demang Laksamana,
mengirim surat kilat ke Malak untuk meminta bantuan melawan Batavia. Menurut
orang-orang Aceh bahwa orang-orang Portugis pergi ke raja Mataram dengan
membawa hadiah seekor kuda Arab putih sebagai hadiah dan memberi nasehat kepada
raja Mataram agar melanjutkan perang melawan Batavia. Orang-orang Portugis
menjanjikan bantuan 40 kapal kepada Mataram. Orang-orang Portugis memberi
bantuan kepada Mataram pada tahun 1631 berupa penggunaan meriam. Orang-orang
Portugis juga menyediakan kebutuhan artileri kepada Mataram. Pada saat itu raja
Mataram sedang disibukan dengan pembuatan meriam. Mereka juga mengajarkan
pembuatan mesiu kepada orang-orang Jawa. Portugis sendiri dua kali mengirim
utusan ke Mataram yaitu utusan pertama tahun 1631 dan utusan kedua tahun 1632
dan 1633.
C. Penyerbuan
Batavia yang Kedua
Pada akhir Mei 1629
pasukan Mataram kembali bergerak menuju Batavia. Ketika itu pasukan Mataram
telah dilengkapi dengan artileri berikut perlengkapan amunisinya. Kurang lebih
tiga minggu kemudian pasukan-pasukan yang lain menyusul sekitar tanggal 20
Juni. Rute yang dipakai adalah menyusuri pantai utara Jawa Tengah, yaitu
Pekalongan, Tegal, dan Cirebon, lalu membelok masuk ke pedalaman Jawa Barat
ialah Sumedang, Cianjur, dan Pakuan (nama Bogor belum ada) lalu turun ke
Ciliwung menuju Batavia.[7]
Pada tanggal 31 Agustus pelopor-pelopor pertama pasukan Mataram dilihat oleh
pos penjagaan Belanda yang ditempatkan 3 sampai 4 mil menyusuri Kali Ciliwung.
40 pasukan berkuda Mataram mencoba mengusir ternak milik VOC tetapi dihalangi
oleh pasukan kuda VOC dan para penggembala ternak yang bersenjata. Hari itu
juga pasukan Mataram keseluruhan mulai datang dan mendekat serta berkemah di
sebelah timur, selatan, dan barat kota di luar jarak tembak meriam Batavia.
Sejumlah pasukan
Mataram terlihat berjalan kaki dan berkuda dengan panji-panji, bendera-bendera,
dan gajah-gajah. Pasukan Mataram mengatasi kegagalan pertama ke Batavia karena
kekurangan logistik bagi pasukan Mataram dengan mendirikan lumbung-lumbung padi
di Tegal. Orang Jawa mengirim utusan bernama Warga dengan surat-surat dari
atasannya, Tumenggung Tegal untuk menawarkan perdamaian dan permintaan maaf
atas serangan pertama ke Batavia. VOC menerima Warga dengan baik sementara itu
orang-orang Mataram mengumpulkan padi di Tegal.[8]
Padi-padi tersebut ditumbuk di Tegal untuk diperdagangkan di Batavia. Baru
kemudian kunjungan kedua Warga ke Batavia pada 20 Juni 1629. Diketahui bahwa
Mataram berencana menyerbu kembali ke Batavia untuk kedua kalinya dan
menjadikan Tegal sebagai gudang makanan bagi pasukan Mataram.
Kemudian 3 kapal
VOC dikirim melalui Pantai Utara, lalu pada 4 Juli kapal Belanda menghancurkan
300 kapal, 400 rumah, dan satu gunungan padi di Tegal. Beberapa minggu kemudian
gunungan padi kedua dimusnahkan Belanda di Cirebon yang akhirnya pasukan
Mataram kembali kekurangan logistik dan hanya bertahan satu bulan dalam pengepungan
Batavia. Pada tanggal 8 September VOC
melihat pasukan Mataram membuat parit perlindungan dan mendekat ke benteng
Hollandia. Malam-malam berikutnya orang-orang Jawa sibuk membuat parit-parit
perlindungan di luar jarak tembak meriam. Pada tanggal 12 benteng Bommel
diserbu 200 orang namun dapat dipukul mundur kembali. Tanggal 14 dan 15
September datang gerobak yang ditarik oleh kerbau yang berisi meriam. Pasukan
Mataram menyiapkan meriam-meriam tersebut dan mendekati bangunan pertahanan
Belanda terluar.
Namun pada
tanggal 17 September direncanakan sebuah sergapan yang dipimpin oleh Antonio
van Diemen. Pasukan Mataram dalam sergapan ini mengalami kekalahan besar. Pada
tanggal 21 September pasukan Mataram menembakan meriam-meriamnya untuk pertama
kali. Gubernur Jenderal Jan Pieterz Coen pada tanggal 17 masih sempat meninjau
pertahanan musuh namun, pada 21 September 1629, J.P. Coen meninggal karena
sakit.[9]
Pasukan-pasukan Mataram telah selesai menyiapkan pemasangan meriam-meriamnya.
Kemudian mereka melepaskan tembakan-tembakan di sebelah timur maupun selatan
kota Batavia. Di bagian barat terdapat 2 sampai 3 meriam berat dan beberapa
meriam ringan. Kerugian yang diderita dan korban manusia dinilai secara militer
tidak berarti.
Pada tanggal 29
September pasukan Mataram menyerang benteng Weesp yang mengakibatkan kekalahan
besar bagi pasukan Mataram. Tanggal 27 pihak VOC melakukan serangan umum ke
pasukan Mataram karena VOC mendapatkan keterangan dari orang-orang Jawa yang
tertawan menceritakan bahwa pasukan Mataram menderita kelaparan dan wabah
penyakit. Lantas pada tanggal 1 Oktober pada serangan kecil pasukan Mataram
tidak bersemangat lagi untuk menyerbu Batavia. Esoknya pasukan Mataram menarik
mundur dengan meninggalkan mayat-mayat dan korban serta gerobak-gerobak kosong.
Selama pengepungan ini tidak ada kegaduhan sedikitpun di dalam kota Batavia.
Semua berjalan sepeti biasa. Korban di pihak Belanda sekitar 10 sampai 12 tewas
sedangkan orang-orang Cina, Jepang, dan kelompok mardijker lebih sedikit lagi. Dalam
hal ini Batavia berhasil unggul dalam adu kekuatan pengepungan Mataram.
D. Setelah
Kegagalan Penyerbuan Batavia
Setelah mengalami
kegagalan dalam pengepungan Batavia, Sultan Agung sendiri tidak lagi
sungguh-sungguh untuk menyerbu Batavia kembali. VOC dan Mataram pun kemudian
membuka peundingan pada tahun 1630. Desas-desus bahwa Mataram akan menyerbu
Batavia untuk yang ketiga kalinya didengar oleh VOC. Dengan cepat Batavia
mengirim armada kapal sejumlah 8 kapal dengan awaknya berjumlah 693 orang.
Mereka mendapat tugas untuk memusnahkan kapal-kapal Mataram dan gudang-gudang
perbekalan Mataram di sepanjang Pantai Utara Jawa. Pelayaran ke timur itu
rupanya tidak begitu berhasil namun Belanda meyakini bahwa Mataram tidak
mengadakan persiapan untuk serangan baru terhadap Batavia. Mataram antara tahun
1630 sampai 1634 sering mengadakan penyerbuan terhadap kapal-kapal VOC. Mataram
juag memperkuat armada militer dengan pembuatan perahu-perahu baru yang membuat
periaran antara Batavia tidak aman.
Mataram terus
menerus mencari bantuan dari Malaka yang ada di bawah kekuasaan Portugis.
Harapan akan bantuan ini hilang karena pada tahun 1641 VOC menguasai Malaka dan
orang-orang Portugis kehilangan tempat berpijak di Kepulauan Nusantara.[10]
Tahun 1634 terjadi perubahan politik pada Mataram. Kepercayaan raja Mataram
sendiri pada tahun 1635 terhadap bantuan Portugis hampir seluruhnya lenyap.
Raja Mataram sudah lama tidak mempunyai harapan untuk menguasai Batavia. Sikap
raja terhadap VOC berubah walaupun hal tersebut tidak berarti bahwa ia
berhasrat mengadakan perdamaian tanpa syarat terhadap VOC. Hubungan antara
Mataram dan VOC tahun 1641 sampai 1642 tidak begitu baik karena tawanan-tawanan
Belanda tidak dilepaskan oleh Mataram. Oleh karena itu VOC selalu mencari jalan
untuk memaksa Mataram untuk mengembalikan orang-orang Belanda tersebut.
Hubungan antara VOC dan Mataram hingga meninggalnya Sultan Agung pada tahun
1645 tidak mengalami perbaikan.
E. Jasa-jasa
Prajurit Jawa
Rencana satu
sergapan besar terhadap Batavia, terlepas dari tidak tepatnya penyerangan dalam
waktu damai, mengandung sesuatu yang agung dan istimewa. Hanya selisih beberapa
hari saja antara tibanya pasukan darat dan angkatan laut mengakibatkan
kegagalan. Prajurit Jawa ternyata sangat berdisiplin, berani bertempur, dan
dapat menyesuaikan diri dengan cara-cara bertempur asing bagi mereka misalnya
pengepungan kota Batavia yang diperkuat dengan benteng gaya Eropa. Pada
detik-detik terakhir ketika keadaan prajurit-prajurit Mataram mengalami serba
kekurangan dan penyakit yang merajalela semangat dan daya tahan mereka mulai
turun. Buruknya kondisi logistik tentara Mataram yang sangat rendah. Keadaan
logistik yang buruk ini tentu berkaitan dengan masalah transportasi yang ada.
Transportasi yang sederhana dan jarak tempuh ofensif yang jauh menyebabkan
kemampuan angkut logistik sangat sedikit. Masalah ini bertambah dengan keadaan
jalan yang sulit dilalui. Akibatnya tentara harus bisa hidup dengan apa yang
ditemukan selama di pejalanan.
Penyebab
kegagalan mereka terletak kepada kurangnya perawatan, kurangnya daya tembak,
dibandingkan dengan orang-orang Eropa, bentuk tubuh mereka juga lebih kecil. Kurangnya
daya tembak pasukan Mataram dalam hal penggunaan senjata api sebenarnya telah
coba diatasi oleh Mataram dengan mendatangkan orang-orang Portugis untuk
mengajari prajurit-prajurit Mataram dalam penggunaan meriam. Prajurit-prajurit
Mataram kurang begitu efisien dalam penggunaan meriam sehingga gagal merebut
Batavia. Penggunaan senjata prajurit Mataram dalam segi penggunaan senjata api
masih sangat rendah. Keterbatasan pasukan Mataram dalam penggunaan senjata api
bukan merupakan hal yang rahasia lagi. Benteng-benteng pertahanan gaya Eropa juga
menimbulkan kesukaran-kesukaran bagi prajurit Mataram yang tidak dapat diatasi
misalnya serbuan mereka yang tidak berhasil terhadap benteng kecil yang
dipertahankan oleh 12 orang saja.
Pembendungan Kali Ciliwung yang dilakukan oleh
pasukan Mataram yang diadopsi ketika mereka menyerbu Surabaya mengalami
kegagalan karena ketika di Surabaya Sungai Brantas yang mereka bendung
mempunyai saluran pembuangan yaitu Kali Porong sedangkan Kali Ciliwung tidak
mempunyainya. Musim juga mempunyai pengaruh, karena musim hujan di Jawa bagian
barat biasanya lebih dahulu daripada di bagian timur. Lagipula prajurit-prajurit
Mataram melakukan serangan sudah agak terlambat. Pendek kata, raja Mataram dari
segi kemiliteran belum pernah mencoba meraih kemenangan sedemikian tinggi
seperti rencana merebut Batavia karena itu, kegagalan tersebut semakin terasa.
[1]Marwati Djoened Poesponegoro
dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia III, (Jakarta: Balai Pustaka, 1992),
hlm. 72.
[2]De Graaf, H.J, Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi
Sultan Agung, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1990), hlm. 151.
[4]Marwati Djoened Poesponegoro
dan Nugroho Notosusanto, Op.Cit, hlm. 73.
[5]De Graaf, H.J, Op.Cit, hlm. 154.
[6]Soedjipto Abimanyu, Babad Tanah Jawi, (Yogyakarta: Laksana,
2013), hlm. 385.
[7]Ki Sabdacarakatama, Ensiklopedia Raja-raja Tanah Jawa,
(Yogyakarta: Narasi, 2010), hlm. 97.
[8]Marwati Djoened Poesponegoro
dan Nugroho Notosusanto, Op.Cit, hlm. 75.
[9]Ardian Kresna, Sejarah Panjang Mataram, (Yogyakarta:
Diva Press, 2011), hlm. 45.
[10]Marwati Djoened Poesponegoro
dan Nugroho Notosusanto, Op.Cit, hlm. 36.

Comments
Post a Comment