Human Resource Management dalam Industri Jasa Transportasi Udara.
Gita Ratih Prima Santi
5119220014
Organisasi
profit dan non profit merupakan wadah yang menghimpun sejumlah manusia yang
memiliki kepentingan yang sama dalam memenuhi kebutuhannya sebagai manusia.
Kepentingan yang sama itu dikristalisasikan menjadi tujuan bersama sebagai
salah satu unsur organisasi yang harus dicapai melalui kerjasama. Salah satu
sumber daya organisasi yang memiliki peran penting dalam mencapai tujuannya
adalah sumber daya manusia. Oleh karena pentingnya peran manusia dalam
kompetisi baik jangka pendek maupun jangka panjang dalam agenda bisnis, suatu
organisasi harus memiliki nilai lebih dibandingkan dengan organisasi lainnya.
Manajemen
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah studi tentang kegiatan mengenai orang yang
bekerja di suatu organisasi. Hal ini dikarenakan dalam mencapai tujuannya,
organisasi memerlukan SDM sebagai pengelola sistemnya, dan agar sistem ini
berjalan, dalam pengelolaannya diperlukan beberapa aspek penting, seperti
pelatihan, pengembangan, motivasi, dan aspek-aspek lainnya. Hal inilah yang
menjadikan manajemen sumber daya manusia sebagai salah satu indikator penting
pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Para manajer kini
menyadari efektivitas fungsi SDM mereka berdampak besar bagi kinerja laba
perusahaan. Perencanaan SDM yang buruk mengakibatkan tingginya angka perekrutan
sekaligus juga pemberhentian, yang memakan biaya besar dalam pembayaran
kompensasi PHK, biaya pelatihan, dan semangat kerja.
Untuk
memastikan bahwa fungsi SDM telah berjalan dan mampu memberikan kontribusinya
dengan baik dalam pencapaian keberhasilan perusahaan, harus dilakukan penilaian
(evaluasi) terhadap pelaksanaan dan pengendalian program-program SDM yang
dikembangkan pada fungsi ini dalam mencapai tujuan perusahaan secara
keseluruhan. Evaluasi secara menyeluruh terhadap tujuan, rencana dan
program/aktivitas SDM dilakukan dengan melaksanakan audit atas fungsi SDM.
Setidaknya
ada banyak fenomena-fenomena manajemen sumber daya manusia yang terjadi baik di
organisasi di dalam negeri maupun di luar negeri, serta di berbagai bidang
industri. Di antara fenomena-fenomena tersebut, terdapat fenomena yang terjadi
pada dua perusahaan jasa transportasi udara di Indonesia yaitu Perusahaan A dan
Perusahaan B yang menggunakan manajemen SDM berbeda dalam menjalankan
perusahaannya.
Perusahaan
A adalah maskapai penerbangan swasta nasional
asal Indonesia dan merupakan maskapai penerbangan berbiaya rendah (Low Cost Carrier). Perusahaan A mencoba
mewujudkan dan merubah stigma masyarakat bahwa siapapun bisa terbang bersama
mereka dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keamanan, dan kualitas
penerbangan. Ekspansi bisnis yang agresif dan inovatif membuat Perusahaan A
kini telah memiliki sarana dan fasilitas yang lengkap guna menunjang bisnis
penerbangannya seperti adanya pusat pelatihan, pendidikan, perkantoran, dan
tempat tinggal bagi ground crew
maupun flight crew, serta pusat
perawatan dan pemeliharaan armada pesawat.
Dalam perjalanannya, Perusahaan A telah banyak memiliki
rangkaian prestasi dan penghargaan, serta sertifikasi internasional yang
tentunya diraih untuk terus meningkatkan kualitas dalam pelayanannya kepada
masyarakat dan pelanggan setianya. Beberapa diantaranya adalah sertifikasi ISSA
yaitu sebuah standar keselamatan dan keamanan berskala internasional yang diberikan
oleh IATA dan diraih pada Januari 2016, Lalu sertifikasi ISO 9001:2015
mengenai delay management yang
tentunya standar tersebut akan terus diaudit secara berkala.
Perusahaan B merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang
usaha penerbangan komersial berjadwal. Sebagai perusahaan jasa penerbangan,
Perseroan memiliki 1 (satu) kantor pusat dan mengoperasikan 16 kantor pelayanan
dan penjualan yang tersebar di 12 kota besar di Indonesia. Perseroan senantiasa
berkomitmen untuk memberikan pelayanan memuaskan kepada seluruh pelanggan dan
para mitranya. Sebagai maskapai bertarif rendah terbaik, Perusahaan B
menghubungkan pengunjung dan destinasi melalui 293 rute; 90 diantaranya dikategorikan
sebagai rute unik yakni rute-rute yang hanya dioperasikan oleh Group
Perusahaan B. Perusahaan B bertumpu pada filosofi tarif rendah yang
menekankan pada operasi yang ramping, sederhana, dan efisien. Mereka menerapkan
sejumlah strategi pokok untuk mencapai hal tersebut, seperti Pendayagunaan Pesawat
Udara yang Tinggi; Tarif Rendah, Tanpa Embel-embel; dan Jaringan Penerbangan Langsung.
Dijalankan secara bersamaan, strategi-strategi tersebut
berhasil menjadikan Perusahaan B sebagai maskapai dengan tarif paling rendah di
dunia, dengan cost per available seat
kilometre (cost/ASK) sebesar 3,07 sen Dollar AS pada tahun buku 2017.
Terlebih lagi angka tersebut diperoleh tanpa mengabaikan keselamatan
penerbangan. Pemanfaatan teknologi yang inovatif berperan penting dalam kisah
sukses Perusahaan B. Berawal dari pemesanan online, Perusahaan B adalah
maskapai pertama di Asia yang menawarkan penerbangan tanpa tiket sejak tahun
2002 dan memungkinkan penumpangnya membayar pesanan via telepon menggunakan
kartu kredit.
Dengan berpegang teguh pada praktik-praktik terbaik, Perusahaan
B mendapatkan penghargaan-penghargaan atas kinerja yang baik. Mungkin
penghargaan yang paling kentara adalah penobatan Perusahaan B sebagai Maskapai
Berbiaya Hemat Terbaik Dunia dari Skytrax sebanyak sepuluh kali berturut-turut
sejak 2009 hingga 2018. Penghargaan dari Skytrax tersebut mencerminkan opini
sekitar 20 juta penumpang di seluruh dunia yang disurvei oleh konsultan penerbangan
asal Inggris tersebut.
Pada
tahun 2012 silam, kedua perusahaan penerbangan tersebut sama-sama mendapat kasus
yakni berupa penundaan penerbangan hingga salah menurunkan penumpang. Dari
kasus tersebut, perusahaan A dan perusahaan B dianggap kurang baik dalam dalam
mengelola SDM milik mereka. Pemerintah melalui
Kementerian Perhubungan memberikan sanksi terkait pembekuan ground handling serta tidak
diperkenankan untuk pembukaan rute baru. Hal tersebut dinilai sudah cukup baik
karena dengan adanya sanksi tersebut membuat pihak-pihak yang melakukan
kesalahan dapat berfikir lebih baik lagi bagaimana cara mengatasi masalah-masalah
tersebut agar tidak terulang kembali.
Terkait
dengan kasus tersebut, peran manajemen SDM sangat dibutuhkan di mana ia
memiliki fungsi operasional mengenai fungsi pemeliharaan
SDM yaitu perusahaan memelihara kemampuan dan sikap karyawan melalui
program keselamatan, kesehatan, dan pelayanan. Setiap program keselamatan dapat
terdiri dari salah satu atau lebih elemen-elemen berikut ini:
1)
Didukung oleh manajemen
puncak (top management)
2)
Menunjukkan seorang
direktur keselamatan
3)
Pembuatan pabrik dan
operasi yang bertindak secara aman
4)
Mendidik para karyawan
untuk bertindak dengan aman
5)
Menganalisa kecelakaan
6)
Menyelenggarakan perlombaan
atau keselamatan kerja
7)
Menjalankan
peraturan-peraturan untuk keselamatan kerja.
Tahun 2019 Perusahaan A melantik 75 awak pesawat (air crew) dalam rangka promosi jabatan
seiring mengemban tugas baru. Pengangkatan terdiri dari 30 pilot (initial captain), 30 kopilot (first officer), dan 15 pimpinan awak
kabin (senior flight attendant). Total
tersebut kini memperkuat lebih dari 5.600 air
crew Perusahaan A. Pengangkatan tersebut dilakukan atas pencapaian pilot,
kopilot, dan kru kabin setelah menjalani berbagai pelatihan, pengujian, dan
penilaian berkala, sehingga saat ini berhasil menduduki fungsi serta
tanggungjawab baru. Para kru pesawar harus mempertahankan lisensi dan
mengaplikasikan sistem kinerja profesional. Peran ini adalah proses
berkarakteristik sendiri, didorong kemauan dan kemampuan bekerja melayani
wisatawan dan pebisnis (travellers)
di setiap perjalanan udara sebagai bentuk peningkatan mutu layanan.
Dari sisi operasional, Perusahaan A kini fokus
mengembangkan SDM di setiap lini, termasuk awak pesawat dengan memanfaatkan
secara maksimal pusat pelatihan Angkasa Training Center (ATC) dan sembilan
simulator. Setiap operasional Perusahaan A telah mengimplementasikan budaya
keselamatan (safety culture) serta
tetap mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan (safety first). Dalam strategi pengembangan SDM, Perusahaan A
mempunyai pandangan tegas bahwa kemampuan, kepandaian, keterampilan, bakat,
serta potensi diri harus selalu dilakukan penyegaran (recurrent), pembinaan, dan regenerasi. Tujuan utamanya ialah mampu
menguasai materi bidangnya semakin luas, mendalam, mahir, mutakhir, dan dapat
mengambil keputusan menurut SOP yang berlaku. Perusahaan A menyatakan, semua
awak pesawat wajib disiplin mematuhi aturan perusahaan, Peraturan Keselamatan
Penerbangan Sipil (PKPS) atau Civil
Aviation Safety Regulation Republik Indonesia (CASR RI). Hal ini memastikan
keselamatan penerbangan kepada penumpang, kru bertugas (on duty), serta pihak lain. Perusahaan A mengatur air crew berdasarkan jam terbang sesuai
batas maksimum yang ditentukan dan lisensi tipe pesawat (type rating) aktif. Jam terbang mengacu sebagaimana ditetapkan
International Civil Aviation Organization (ICAO).
Sementara itu, di tahun yang sama, tahun 2019, Perusahaan B
telah memilih Workday Human Capital Management (HCM), penyedia layanan aplikasi
cloud untuk keperluan sistem keuangan
dan SDM sebuah perusahaan, sebagai bagian dari perjalanan tranformasi
digitalnya. HCM Workday memungkinkan cutomer,
dalam hal ini Perusahaan B, untuk mengelola data tenaga kerja yang dapat
membantu manajemen untuk membuat keputusan yang lebih cepat dan lebih
informatif. HCM sendiri adalah kerangka kerja logika yang
digunakan untuk mengumpulkan, mengatur, dan menafsirkan data, dan kemudian juga
pengetahuan, untuk tujuan menilai probabilitas peristiwa mendatang. Secara
khusus, sistem HCM terdiri dari empat fase:
1) Scanning. Semua kekuatan pasar eksternal dan faktor-faktor internal
organisasi terdaftar dalam hal bagaimana mereka dapat mempengaruhi modal
manusia, struktural, dan relasional organisasi. Selain itu, interdependensi dan
interaksi di ketiga bentuk modal ini diakui dan diperhitungkan. Ini adalah
titik kritis, yang sering diabaikan.
2) Planning. Perencanaan tenaga kerja disusun kembali sebagai
pengembangan kemampuan. Era industri, analisis kesenjangan, model yang berfokus
pada struktur digantikan dengan sistem yang gesit yang berfokus pada
pembangunan kemampuan manusia yang berkelanjutan alih-alih mengisi posisi;
faktanya, banyak dari posisi lama itu akan direstrukturisasi atau dihilangkan.
3) Producing. Layanan sumber daya manusia dipelajari sebagai proses
dengan input, throughput, dan output. Analisis statistik diterapkan untuk
mengungkap kombinasi input dan throughput yang paling hemat biaya untuk
mendorong output yang diinginkan.
4) Predicting. Sistem pengukuran tiga titik dirancang untuk termasuk
indikator strategis, operasional, dan utama. Aspek kausal dan korelasional dari
tiga poin digunakan untuk menceritakan kisah yang komprehensif.
Chief People and Culture Officer, Perusahaan B, mengatakan,
teknologi ini akan diterapkan untuk mengelola data karyawan Perusahaan B
termasuk informasi karir, keterampilan teknis dan pelatihan, serta catatan
karyawan lainnya. Selain itu, karyawan akan memiliki akses layanan mandiri yang
memungkinkan mereka untuk membangun jalur karir mereka sendiri. Perusahaan B
juga meluncurkan perusahaan dana modal ventura yang akan berinvestasi dalam post-seed startup di seluruh dunia yang
berencana melakukan ekspansi di Asia Tenggara. Perusahaan modal ventura
tersebut menargetkan jenis-jenis startup
yang bergerak di bidang pariwisata, perencanaan perjalanan, gaya hidup,
logistik, kepandaian buatan (artificial
intelligence), internet of things,
kemanan cyber, dan perusahaan-perusahaan fintek.
Menurut Chief People and Culture Officer, Perusahaan B,
sebagai perusahaan yang menjunjung tinggi aspek interaksi dalam lini bisnis
maupun interaksi antar karyawannya, ia melihat adanya kebutuhan untuk menyatukan
semua layanan tersebut ke dalam satu program yang efisien. Seluruh
karyawan telah memiliki akses ke dalam jaringan Wokrdays untuk seluruh
kebutuhan korporat seperti pengajuan cuti, laporan pendapatan bulanan, sistem
pembayaran online dan kebutuhan lainnya. Bahkan para pencari kerja yang
berminat untuk bergabung dengan Perusahaan B dapat mengakses ketersediaan
pekerjaan melalui layanan Workday yang akan memudahkan pencarian berdasarkan
keahlian masing-masing calon pekerja.
Key Performance
Indicator (KPI) dari Perusahaan A dan Perusahaan B, jika
dilihat dalam hal % OTD (On-Time
Departure), Perusahaan B terkesan lebih tepat waktu. Hal tersebut menilik
dari seringnya keterlambatan kedatangan pesawat dari Perusahaan A. Fast ground turn around yang diukur
dengan KPI selisih menit kedatangan dan keberangkatan di suatu bandara
merupakan salah satu KPI penting untuk mengukur critical succes factor dari bisnis transportasi. Perusahaan B
dirasa telah menunjukkannya. Pilot Perusahaan B telah menyambut bahkan ketika
penumpang awal menjejakkan kaki ke dalam pesawat. Sementara pramugari
Perusahaan A dirasa lebih tak berjarak dengan penumpang. Mereka akan dengan
ramah dan tanpa segan mengobrol dengan penumpang. Mereka tahu bahwa mengobrol
merupakan bagian dari customer intimacy
strategy. Pramugari Perusahaan A lebih cekatan dalam mengurusi bagasi
penumpang, sementara pramugari Perusahaan B mengamati dan lebih berfokus dalam
membantu lokasi duduk penumpang dengan benar. Selain itu, indikator Rp Customer Spending dalam pesawat yang
merupakan salah satu KPI dilakukan dengan baik oleh Perusahaan A dan Perusahaan
B.
Referensi:
Amstrong’s
Handbook of Human Resource Management Practice, 12th Edition, 2012.
Gary
Dessler, Human Resource Management, 13th Edition, 2012.
Module
Human Resource Management 08
Jac
Fitz-End, HR Analyctic Predicting the Economic Value of Your Company’s Human Capital
Investment.

Comments
Post a Comment